Montessori Bukan yang Menakut-nakuti
Perjalanan Mrs. Tyas menemukan sekolah yang benar-benar menghargai anak
“Melebihi harapan ya Miss kalau menurut saya.”
Mrs. Tyas, ibu dari Aisha (5 tahun)
Mrs. Tyas sudah mengenal konsep Montessori sejak Aisha berusia 8 bulan -- belajar sendiri, menyiapkan kegiatan sendiri di rumah. Rencananya sederhana: tidak perlu sekolah, cukup belajar bersama Mama.
Tapi saat Akina lahir, semua rencana itu runtuh. "Saya nggak sempet ngapa-ngapain," katanya. Seorang ibu yang sudah investasi bertahun-tahun mempelajari Montessori, tiba-tiba kewalahan dengan dua anak. Ya sudahlah, disekolahin aja.
Sekolah pertama yang dicoba -- PAUD Montessori dekat rumah -- terasa biasa saja. Tapi satu momen membuat Mrs. Tyas langsung tidak sreg. Seorang anak yang sedang sekolah di sana tidak mau pulang saat dijemput. Respons gurunya? "Kok nggak mau pulang sih, nanti ditinggal lho."
“Harusnya kalau bener-bener Montessori itu anak itu nggak ditakut-takutin.”
Mrs. Tyas, tentang insiden di sekolah sebelumnya
Mrs. Tyas kembali mencari di Google. Sekolah Montessori yang ia tahu sebelumnya ada di BSD -- terlalu jauh. Tapi kemudian muncul satu nama: Joyful Montessori, di Serpong Natura City.
Dari langkah pertama masuk, beda. "Lebih bersih, lebih rapi, kelihatan homey," kenang Mrs. Tyas. "Apparatus-nya itu juga kelihatan bersih-bersih banget. Jadi masuk itu udah feel-nya udah kerasa beda."
Aisha itu anak pendiam -- dan di Joyful, itu tidak pernah jadi masalah. "Gurunya nggak judging." Tidak ada label, tidak ada tekanan -- Aisha diterima apa adanya.
Dari lingkungan tanpa tekanan itulah, perubahannya mulai terlihat di rumah. Dulu, kalau ada konflik dengan Akina adiknya, Aisha diam -- tunggu Mama datang. Sekarang? "Dia bisa menyelesaikan masalahnya sendiri, tanpa dibantu atau dengan sedikit bantuan."
“Gurunya itu tidak judging orang tua. Walaupun anaknya ada kekurangan atau agak sedikit ketinggalan, anaknya juga nggak di-judging.”
Mrs. Tyas, tentang guru-guru di Joyful Montessori
Di rumah, Mrs. Tyas melihat anak yang berbeda: "Dia itu bisa tahu apa yang dia mau." Aisha lebih teratur, punya kemauan sendiri.
Di kelas, Aisha memilih sendiri materi yang dia suka. "Kalau anak bisa memilih materi sendiri-sendiri, itu menandakan kecerdasannya tuh lagi di situ." Bukan sistem yang memaksa semua anak belajar hal yang sama -- tapi yang melihat apa yang sedang berkembang.
“Montessori itu memberikan kebebasan dengan batasan. Bisa muncul rasa tanggung jawab sendiri dalam diri anak itu.”
Mrs. Tyas, tentang esensi pendekatan Montessori
Bagi Mrs. Tyas, Joyful memberi sesuatu yang tak kalah penting: rasa aman sebagai orang tua. Sebuah tempat di mana ia bisa jadi orang tua tanpa dihakimi -- dan Aisha bisa tumbuh tanpa dibanding-bandingkan.
Ketika ditanya soal SD Joyful, jawabannya jujur: "Sebenernya saya tertarik sekali, Miss. Cuma nanti akan diskusi dulu dengan suami, juga dilihat dulu perkembangan anaknya." Antusias, tapi realistis.
Ulasan Lainnya
“Dia nggak ngerasa bahwa ini tuh sekolah.”
Cerita Mrs. Miranti menemukan sekolah di mana Kazu belajar tanpa merasa sedang 'disekolahkan'
“Aku percaya anak aku berada di tangan yang tepat.”
Cerita Mrs. Soraya membedakan Montessori asli dari yang cuma label. Gimana Asadel berkembang


