Kelas Terbaik Tidak Terasa Seperti Kelas
Ulasan Mrs. Miranti menemukan sekolah di mana Kazu belajar tanpa merasa sedang 'disekolahkan'
“Cuman pengen dia tidak kehilangan joyful of learning-nya. Kecintaan dia terhadap belajar.”
Mrs. Miranti, ibu dari Kazu (4,5 tahun)
Mrs. Miranti bukan ibu yang baru mengenal Montessori. Jauh sebelum Kazu masuk sekolah, kapanpun dia mulai mengacau di rumah, Mrs. Miranti membawanya keluar. Menyentuh pohon yang kasar dan halus, ngobrolin awan sama bulan. Sejak Kazu berumur setahun, Mrs. Miranti sudah mengajaknya mengobrol tentang apa yang mereka lihat di luar.
Ketika adik Kazu lahir dan Mrs. Miranti sibuk menyusui, keputusan dibuat: abang sekolah. Pilihan pertama jatuh ke sekolah Montessori di Gading Serpong, 13 kilometer dari rumah. Tapi ternyata bukan yang diharapkan. "Cuman kok kayaknya dikasih worksheet gitu. Yang aku tahu harusnya nggak worksheet." Kazu juga tidak betah di sana — ruangannya terasa sempit, cahaya matahari kurang masuk. Mrs. Miranti tahu harus cari lagi.
“Dia nggak ngerasa bahwa ini tuh sekolah.”
Mrs. Miranti, tentang kesan pertama Kazu di Joyful Montessori
Satu hari, iklan Joyful Montessori muncul di pencariannya. Mrs. Miranti datang trial, dan dari pertama melangkah masuk, perbedaannya langsung terasa. Cahaya mataharinya masuk, Kazu bisa liat keluar. Kazu yang tadinya nangis di sekolah lama, di sini justru merasa nyaman.
Ironisnya, perubahan dimulai dari hal yang Mrs. Miranti sendiri akui sulit: keteraturan. "Karena sebenernya aku tuh orangnya tidak teratur," katanya. Tapi justru Kazu yang menemukan keteraturan duluan.
Di Joyful, Kazu mulai senang mencuci piring, dan kebiasaan itu terbawa ke rumah. "Sambil main air sih ya tapi ya sudahlah. Proses ya." Dari seorang ibu yang mengaku tidak teratur, justru lahir anak yang mulai membangun rutinitasnya sendiri.
Dan cara mereka berkomunikasi pun bergeser. Bukan lagi "aku adalah ibu, dengarkan aku." Sekarang kalau ada masalah, Mrs. Miranti bertanya: "Menurut abang gimana?", dan Kazu bisa diajak ngomong dua arah, tanpa ngegas.
“Aku itu termasuk orang yang butuh ilmu untuk menambah toleransi. Kalau aku nggak mengerti apa yang dia hadapi, toleransiku itu lebih pendek.”
Mrs. Miranti, tentang dampak kelas parenting Joyful bagi dirinya
Bagi Mrs. Miranti, Joyful terasa seperti komunitas kecil, bukan seperti sekolah yang sangat formal. Kelas parenting di Joyful memberinya sesuatu yang ia butuhkan: pemahaman. Dengan ilmu baru, Mrs. Miranti belajar melihat dunia dari sisi Kazu: "Walaupun anak-anak kesannya kalau dipikir-pikir 'ah gitu aja susah' gitu, tapi ternyata kan emang susah buat mereka."
Ketakutan Mrs. Miranti bukan bahwa Kazu tidak bisa belajar, tapi bahwa dia berhenti ingin belajar. Takutnya, kalau Kazu dimasukkan ke sekolah biasa yang penuh target, anak yang dulu ngobrolin awan dan bulan sejak umur setahun bisa perlahan kehilangan rasa ingin tahunya.
“Seperti komunitas kecil, bukan seperti sekolah yang sangat formal.”
Mrs. Miranti, tentang suasana di Joyful Montessori
Itulah mengapa Mrs. Miranti ingin Kazu lanjut ke SD Joyful. Kazu yang sekarang masih mencintai gunung api, gempa bumi, dan segala tentang bumi. Dan soal biaya? "Jangan mahal-mahal biar bisa masuk dua-duanya", karena adik Kazu juga bisa merasakan hal yang sama.


